Teori Perusahaan

• Nama : Abdullah Ilyas Rifky Al Mas'ud

• NIM : 2020020009

• Kelas/Semester : Manajemen A1/Semester 5

• MATKUL : Ekonomi Manajerial

• Dosen Pengampu : Dr.Supawi Pawenang,SE.,MM.


Teori Perusahaan

A) "Pengertian dan Eksistensi Perusahaan"

Perusahaan adalah organisasi yang mengkombinasikan dan mengharmonisasikan faktorfaktor produksi guna menghasilkan barang dan/atau jasa untuk dijual. Berdasarkan kepemilikan, ada tiga macam bentuk perusahaan, yaitu:

  1.  Perusahaan perseorangan (sole propriotorship) adalah perusahaan yang dimiliki oleh satu orang. Dalam banyak kasus, orang tersebut bertindak sebagai pemilik (owner) sekaligus sebagai manajer yang menangani pengelolaan perusahaan sehari-hari.
  2.  Perusahaan kemitraan (partnership) adalah perusahaan yang dimiliki oleh dua orang atau lebih. Kemitraan ini dapat bersifat terbatas ataupun tak terbatas. Dalam kemitraan terbatas, seorang mitra mungkin hanya bertanggungjawab sebatas besarnya modal yang disetorkannya ke perusahaan atau sebatas tugas fungsional tertentu, seperti pemasaran atau produksi. Sedangkan pada kemitraan tak terbatas, tiap mitra bertanggungjawab penuh atas hidupmatinya perusahaan bahkan tanggungjawab tersebut dapat sampai pada kekayaan pribadi.
  3. Perusahaan korporasi/perseroan (corporation) adalah perusahan yang dimiliki oleh pemegang saham. Tiap-tiap pemegang saham, yang merupakan pemilik, bertanggungjawab secara proporsional sesuai banyak saham yang dimiliki. Pemegang saham tidak bertanggungjawab atas pengelolaan perusahaan sehari-hari. Tanggungjawab pengelolaan perusahaan sehari-hari diserahkan kepada manajer yang ditunjuk dan manajer tersebut bertanggungjawab kepada pemegang saham.

Dari pengertian tentang perusahaan terlihat bahwa perusahaan berkewajiban membeli bermacam-macam faktor produksi yang dibutuhkan di dalam kegiatan produksi barang dan/atau jasa yang akan dihasilkannya. Dalam hal ini perusahaan harus mengadakan interaksi atau membuat kontrak dengan para pemilik faktor produksi, seperti para pekerja, pemasok, pemilik modal, tenaga ahli, dan sebagainya.

Interaksi yang demikian akan menjadi lebih menguntungkan bila para pemilik faktor produksi tersebut berada dalam suatu lokasi untuk saling terikat secara formal guna menghasilkan suatu barang dan/atau jasa bersama. Ikatan formal inilah yang kemudian menjadi sebuah organisasi yang disebut perusahaan. Dengan kata lain, sebuah perusahaan ada karena alasan efisiensi.

Interaksi ini dapat berkembang menjadi semakin besar yang melibatkan semakin banyak pemilik faktor produksi di dalamnya dan perusahaan mengalami perkembangan. Namun, sebuah perusahaan tidak mungkin berkembang tak terbatas karena keterbatasan yang dimilikinya, terutama keterbatasan kemampuan dalam mengontrol. Dengan semakin besarnya perusahaan, jarak antara pimpinan puncak dengan pegawai operasonal menjadi sangat jauh. Demikian pula, komunikasi antar kantor cabang yang semakin kompleks karena jarak antar kantor yang berjauhan dan banyaknya pihak yang terlibat di dalam komunikasi tersebut. Dalam jangka waktu tertentu berbagai keterbatasan ini dapat diatasi oleh perusahaan namun pada titik tertentu, perusahaan mungkin sudah tidak dapat berkembang lebih jauh lagi, yaitu ketika tambahan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan melebihi tambahan manfaat yang akan dirasakan perusahaan dari upaya pengembangan yang dilakukan. Dengan kata lain, pertumbuhan perusahaan akan dibatasi oleh skala yang tidak ekonomis (diseconomies of scale).


B) Peran Perusahaan Dalam Masyarakat

Satu hal penting dalam ekonomi manajerial terkait dengan saling hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Ekonomi manajerial dapat membantu memperjelas peran penting perusahaan dalam masyarakat dan menunjukkan cara untuk meningkatkan kegiatan perusahaan yang menguntungkan bagi masyarakat. Berikut disampaikan peran penting perusahaan bagi masyarakat.

  1.  Perusahaan memberi kontribusi kepada masyarakat dalam mengurangi pengangguran. Banyak pihak yang terlibat langsung di dalam perusahaan, baik sebagai pemegang saham, manajer, pekerja, pemasok, maupun konsumen. Semakin banyak pihak yang terlibat di dalam kegiatan perusahaan, berarti semakin banyak lapangan kerja yang dapat disediakan oleh perusahaan.
  2. Perusahaan merupakan sumber penghasilan bagi masayarakat. Dalam memproduksi barang dan/atau jasa, perusahaan menggunakan sumber daya yang dimiliki masyarakat. Sebagai kompensasinya, perusahaan membayar kepada para pemilik atas penggunaan sumber daya tersebut sehingga para pemilik sumber daya mempunyai penghasilan yang dapat digunakan untuk membeli barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
  3. Perusahaan membantu dalam mencapai kesejahteraan maksimum secara agregat. Dalam sistem perekonomian pasar, diyakini bahwa perusahaan akan mengalokasikan sumber daya yang ada dengan cara yang paling efisien. Akibatnya, barang dan jasa dapat dihasilkan dengan biaya yang paling rendah sehingga dapat dijual dengan harga yang murah. Hal ini menguntungkan masyarakat karena mereka dapat memperoleh barang dan/jasa yang dibutuhkannya dengan harga yang murah.

Dampak negatif yang dihasilkan perusahaan dari kegiatannya dapat dikurangi dengan aturan atau regulasi yang mengatur bagaimana perusahaan harus bertindak atau berperilaku dalam kegiatannya. Mengingat pentingnya hubungan antara perusahaan dan masyarakat, diperlukan teori perusahaan untuk memahami dan mengevaluasi kegiatan perusahaan. 


C) Model Dasar Perusahaan

        Perusahaan pada dasarnya adalah pelaku ekonomi. Oleh karena itu, kegiatan perusahaan dapat dipahami dalam konteks model ekonomi perusahaan. Model dasar ekonomi perusahaan diturunkan dari teori perusahaan (theory of the firm). Menurut teori perusahaan, tujuan perusahaan diasumsikan memaksimumkan laba (profit maximization). Oleh karenanya, pemilik atau manajer perusahaan juga diasumsikan hanya berpikir untuk memaksimumkan laba jangka pendek (short-run profits).

        Asumsi di atas dinilai tidak realistis. Fakta menunjukkan walaupun gaya manajemen yang diterapkan oleh manajer pada jutaan perusahaan di seluruh dunia sangat bervariasi, tetapi tujuan manajer ternyata relatif tidak berbeda. Manajer pada umumnya mengambil tindakan yang mereka percayai dapat meningkatkan nilai perusahaan mereka. Atas dasar hal ini, tujuan manajer dalam teori perusahaan diasumsikan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Tujuan memaksimumkan nilai/kekayaan perusahaan (wealth maximization) telah menjadi tujuan banyak perusahaan pada masa sekarang ini daripada tujuan memaksimumkan laba jangka pendek. Hal ini terjadi seiring dengan perubahan penekanan pada laba dan untuk mengatasi ketidakpastian serta perubahan waktu.


D) Keterbatasan Teori Perusahaan

     Asumsi maksimisasi laba atau kekayaan perusahaan sebagai tujuan perusahaan dinilai sebagai kelemahan teori perusahaan. Apakah benar manajer perusahaan berupaya untuk mencapai laba yang maksimum? Ataukah sebenarnya manajer hanya mencoba mencapai suatu tingkat laba tertentu yang ditargetkan? Kenyataan juga menunjukkan bahwa manajer mungkin lebih tertarik pada usaha untuk mencapai suatu prestise tertentu, seperti tingkat gaji yang tinggi, cakupan pasar, atau target jumlah kantor cabang. Manajer mungkin juga lebih mengarahkan perhatiannya pada suatu tingkat pendapatan tertentu daripada mencoba memaksimumkan laba sebagai upaya untuk menarik minat investor. 

    Berbagai pertanyaan ini telah memunculkan beberapa teori perusahaan baru yang memandang perusahaan bukan lagi sebagai sebuah unit tunggal tetapi lebih sebagai kumpulan individu dengan berbagai tujuan yang mengerucut. Berbagai teori baru ini membantu dalam memahami perusahaan dengan lebih baik.

    Dalam perkembangannya, teori perusahaan diperluas dengan menyatakan bahwa manajer bertujuan memaksimumkan nilai perusahaan dengan berbagai keterbatasan/kendala sumber daya, teknologi, atau masyarakat. Walaupun secara eksplisit, teori ini tidak menyatakan adanya tujuan lain yang akan dicapai perusahaan, namun teori ini dinilai sebagai abstraksi dari berbagai teori yang ada, sehingga teori ini tetap dapat memberikan dasar yang kuat dan mampu menjelaskan perilaku perusahaan yang terkait dengan pengambilan keputusan manajerial. Hal ini dapat dijelaskan dari perilaku manajer yang berupaya untuk memperbaiki remunerasi yang diterima manajer berdasar laba yang diperoleh perusahaan. Adanya laba memberi insentif bagi manajer untuk melakukan maksimisasi nilai dalam pembuatan keputusan.


E)  Nilai Perusahaan

     Sesuai dengan teori perusahaan, tujuan perusahaan adalah memaksimumkan nilai (maximization of value). Untuk itu perlu diperjelas dahulu makna dari nilai. Yang dimaksud nilai dalam konteks ini adalah nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan diterima di masa mendatang. Sedangkan yang dimaksud dengan arus kas sebenarnya adalah laba yang diterima perusahaan.

      Di sisi lain, departemen produksi bertanggungjawab bagaimana menghasilkan produk secara efisien sehingga TC minimum. Unit ini harus berupaya mencari cara atau teknologi produksi yang dapat menekan biaya produksi. Demikian juga dengan departemen riset dan pengembangan (R&D) yang bertanggungjawab untuk mengembangkan produk yang memenuhi kebutuhan konsumen secara efisien.

      Disamping unit-unit yang disebut di atas, pada dasarnya semua unit di dalam perusahaan bertanggungjawab terhadap peningkatan nilai perusahaan, baik secara langsung atau tidak langsung. Misal, depertemen keuangan harus mencari upaya untuk menghemat biaya melalui sistem pembayaran atau pengaturan arus kas perusahaan. Upaya ini secara tidak langsung akan mempengaruhi nilai TR dan TC pada suatu periode tertentu. Kemampuan departemen keuangan untuk mendapatkan modal kerja dengan tingkat bunga (r) yang paling kecil juga berpengaruh pada peningkatan nilai perusahaan.


F)  Kendala dan Keterbatasan Perusahaan

       Dalam usahanya mencapai laba jangka panjang tersebut, perusahaan menghadapi kendala. Seperti telah disinggung di atas, kendala tersebut muncul antara lain karena terbatasnya ketersediaan input yang penting, sehingga perusahaan tidak dapat memperoleh seluruh bahan mentah khusus sebanyak yang dibutuhkan. Kendala tersebut mempersempit gerak perusahaan dalam upayanya mencapai tujuan perusahaan memaksimumkan laba atau nilai perusahaan. Kondisi semacam ini disebut sebagai optimisasi terkendala (constrained optimization).

      Mengingat setiap perusahaan menghadapi kondisi ini, maka setiap perusahaan pasti berupaya untuk dapat mencapai tujuan memaksimumkan nilai perusahaan / laba jangka panjang dalam keterbatasan yang dimiliki. Untuk bisa mencapai kondisi optimum perusahaan berdasarkan kendala yang ada dibutuhkan teknik-teknik tertentu yang disebut teknik optimisasi. Tentang teknik optimisasi ini akan dibahas pada bab tersendiri.

 


Komentar